web2feel.com

Free WordPress themes by jinsona



Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat). dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Qs. Al-Hasyr [59]:18

Sahabat, ketika cahaya kesadaran datang menghampiri, terasa begitu dalam sesal yang menggumpal di dalam diri. Teringat akan lembaran masa lalu yang kelam, tentang orang-orang yang pernah kita sakiti, tentang prilaku diri yang begitu sering melakukan kekhilafan, tentang bhakti kepada kedua orang tua yang belum kita sempurnakan, tentang cela dan aib diri yang belum sempat kita mohonkan ampunan dan tentang rangkaian perjalanan hidup yang seringkali diselimuti oleh dusta dan kebencian. Telah begitu panjang perjalanan yang kita lalui, tanpa kita sadari, telah begitu banyak kita menorehkan tinta hitam dalam sejarah kehidupan kita. Astaghfirullah, itulah kalimat yang seharusnya kerap kita ungkapkan, atas kekeliruan hati yang salah dalam memanfaatkan kehidupan.

Ketahuilah sahabat, noda hitam (dosa) yang kita biarkan melekat pada cermin hati kita, ia akan sulit untuk dibersihkan. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka dalam hatinya terdapat satu noda hitam. Dan apabila ia bertaubat (kembali ke jalan lurus) dan beristighfar. Noda hitam itu terhapus dari hatinya. Namun apabila dosa itu bertambah, maka noda hitampun bertambah hingga menutupi hatinya.” (Hr.Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Sungguh..kalaulah kita mau jujur terhadap diri ini, betapa sedikit ketaatan kita kepada-Nya dan begitu sering kita mengkhianati segala kenikmatan yang di berikan-Nya. Tampaknya, kita harus bertanya kepada diri ini, kenapa hati begitu keras membatu, hingga kebenaran tak jua menyatu. Kenapa diri ini begitu bodoh dan tak jua menyadari, padahal, begitu nampak didepan kita hamparan kemaha besaran Allah yang tak tertandingi oleh apapun. Rasanya tak pantas diri ini selalu mengharap kebaikan, dimana saat yang lain begitu sering kita tampakkan kejelekan. Rasanya tak pastas kita mengharapkan ampunan, sementara pada saat yang sama kita melakukan kemaksiatan. Rasanya tak pantas kita menjadi hamba pilihan, karena segala perintah dan larangan tak jua tergerak untuk kita laksanakan.

Sahabat, Setiap tapak kaki kita yang tertinggal sesungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari-hari. Hanya orang yang bodoh yang membiarkan hari-harinya tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang yang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan Allah tak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kita sering mengira, bahwa kita telah melakukan kebaikan. Mungkin selama ini kita menduga, bahwa kita telah sempurna melakukan ketaatan, merasa sudah begitu banyak menjalankan kebaikan. Tetapi ternyata, semua itu hanyalah fatamorgana. Nampak begitu baik dalam persangkaan kita, ternyata begitu buruk dalam pandangan Allah. Kenapa demikian, karena ketaatan yang kita kerjakan hanyalah sekedar menginginkan pujian dan kebaikan yang kita tunjukan tidak diringi dengan keikhlasan.

Umar Ibn Khattab pernah memberi nasehat; “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat), dihari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal perbuatan kita barang satupun”. Sahabat, marilah kita bangun sesuatu yang telah kita robohkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidak ikhlasan. Manfaatkan kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan Bukalah gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan. Berbuat baiklah selagi masih punya kesempatan dan bertaubatlah kepada Allah sebelum azal datang menjelang. Tegurlah hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah, agar tetap menjadi hamba yang mulia.

Sadarilah sahabat, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat. Temukan jalan kita diantara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup kita. Mohonlah selalu hanya kepada Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat.Temukan jalan kita dengan berusaha memahami siapa, dari mana dan mau kemana kita hidup. Ajukan pertanyaan ini kepada bathin kita ini dengan khusu’, Insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan kejernihan pikiran.

Penting untuk kita renungkan nasehat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam al-fawaid, dia memberi nasehat kepada kita: “Jika pada pagi dan sore hari seorang hmba perhatiannya hanya kapada Allah saja, maka Allah akan menjamin seluruh kebutuhannya dan menanggung semua apa yang di cita-citakannya. Allah juga akan mengosongkan hatinya untuk Ia isi dengan mahabbah-Nya dan menjauhkan lidahnya dari menyebut selain Allah untuk kemudian Ia hiasi dengan zikir kepada-Nya, serta memelihara anggota badannya dari kemaksiatan, sehingga ia bergegas untuk mentaati-Nya. sebaliknya, jika sepanjang hari perhatian dan kecenderungan kita hanya kepada dunia, maka Allah akan menimpakan berbagai kesusahan dan kedukaan padanya dan akan menyerahkan persoalannya kepada dirinya sehingga jiwanya hampa daro mahabbah kepada Allah. Lidahnya sibuk dengan menyebut-nyebut selalin Dia dan anggota badannya berat untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Ia akan letih akan letih melayani dunia dan tidak bisa memberi manfaat kepada yang lain. Dengan kata laian, orang yang menolak beribadah kepada Allah dan tidak mencintai-Nya, maka ia akan terjebak kedalam penyembahan dan penghambaan kepada makhluk dan dijadikan oelh Allah sibuk berkhidmat kepada selain-Nya. Allah berfirman:

"Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang maha pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang meyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya" (az-Zukhruf:38).

Maha suci Allah…yang memahami segala aib yang tersembuyi, yang maha penerima taubat orang-orang yang tersesat. Tiada pujian yang pantas kita berikan membandingi pujian kepada-Nya. Semoga Allah menghunjamkan kesadaran dihati kita untuk menyadari kekeliruan, mengampuni setiap kemaksiatan. Bersyukur kepada-Nya yang telah menciptakan kita dengan kemuliaan dan kesempurnan. Semoga Allah swt membimbing kita pada jalan yang dirdhoi-Nya, menjauhkan pada jalan yang di murkai-Nya.

Total Hits : 90


Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

"Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku,
sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku, sesungguhnya Rabbku maha pengampun lagi maha penyayang". Qs. Yusuf : 53

Sahabat yang budiman, dua penyakit berbahaya yang sering menjangkiti dan menyerang qalbu (hati) adalah syahwat dan syubhat. Syahwat adalah keinginan yang timbul dari jiwa hewani yang sering bertentangan dengan hukum suci (fitrah kebenaran). Dan syubhat adalah perkara atau keadaan yang tidak jelas haq dan bathilnya, halal dan haramnya. Ketahuilah kedua inilah biang dari segala penyakit yang sering diderita oleh manusia dan formula yang paling dahsyat mematikan hati. Jika kedua penyakit ini telah mengakar dalam diri kita maka kita akan terperangkap dan terpedaya sehingga kita berada dalam jurang kebinasaan. Hanya kepada Allahlah kita mengharapkan rahmat dan hidayah-Nya. Sebab Dia-lah yang mampu membolak-balikan hati dan menundukan segala apa yang ada di langit dan di bumi. Renungkanlah firman Allah : "Dan Dia menundukan untukmu apa yang di langit dan di bumi semuanya, sebagai rahamt darinya. Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir". (Qs. Al-Jatsyiah [45] : 13 ).

Ketahuilah, dalam kehidupan ini, kita dikelilingi oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu yang mencengkram dengan kuat sejak hari kita dilahirkan, seperti kebutuhan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Kebutuhan-kebutuhan ini adalah alami dan harus dipenuhi secara permanen. Ia adalah motif yang memungkinkan manusia berjuang terus-menerus. Sebagai hasil naluri ini, manusia menjauhi apa yang merugikannya dan tertarik kepada hal-hal yang menguntungkan tetapi kemudian dalam proses pencariannya, begitu banyak diantara kita yang lupa dan terlena sehingga terperangkap oleh belenggu hawa nafsu dan pada akhirnya tidak sedikit diantara kita yang tenggelam di laut kesesatan dan kerakusan. Kita telah kehilangan hati nurani jauh lebih senang menjadi pelayan hawa nafsu. Sungguh, inilah awal sebuah kehancuran yang tak terelakan. H. Sholeh Muhammad Basalamah dalam bukunya “Jerat-Jerat Kehidupan”, dia menukil ungkapan Hasan Al-Basyri tentang keharusan untuk menahan hawa nafsu. Beliau berkata : “Tiada sesuatu yang lebih patut engkau menahannya dari pada nafsumu. Tiada sesuatu yang patut engkau mengikatnya dari pada lidahmu. Dan tiada sesuatu yang lebih patut bagimu untuk tidak menerimanya dari pada hawa nafsumu (yang membisikan kejahatan)”

Sahabat, betapa jelas kita saksikan lautan manusia bergumul dan tenggelam dalam mengumpulkan harta kekayaan. Modernisasi telah menjadikan kita manusia yang bersikap materialistis dan individualistis. Kita tak ubahnya seperti robot, menjadi mesin yang secara ritual terikat oleh kegiatan-kegiatan yang monoton. Kebanyakan kita telah kehilangan rasa kemanusiaan, rasa sayang bahkan toleransi antar saudara. Sebagai gantinya kita mengembangkan sifat kasar dan egois. Bahkan untuk memperoleh keuntungan material, kita sudah tak lagi sempat memperhatikan keluarga kita sendiri. Ketahuilah saudaraku, bagaimanapun panjangnya malam pastilah ia akan berakhir dengan menyingsingnya fajar. Bagaimanapun panjangnya usia ia akan berakhir dengan kematian. Dan bagaimanapun banyaknya harta kelak ia akan meninggalkan kita. sadari, selama menjalani kehidupan yang panjang ini, dari mulai ayunan sampai liang lahat beragam persoalan hadir menghampiri, gelombang musibah begitu sering mendekati. Sungguh. semua problema itu memerlukan kesadaran pikiran dan ketajaman nurani. Dan kita tidak akan berhasil dalam perjuangan ini kecuali apabiala kita terus membiasakan diri untuk menampik dorongan hawa nafsu dan berjalan di atas landasan yang benar.

Muhammad Bin Abdul Qawi Al-Mardawi dalam “Mandhumatul ‘adab” mengatakan :“Kala hawa nafsu itu ditekan akan lahir kemuliaan, dan saat keinginannya dipenuhi akan lahir kehinaan”. Bahkan ada yang berpendapat hawa nafsu adalah pembohong yang tak dapat dipercaya. Membiarkannya akan mempercepat datangnya kehancuran, dan memanjakannya akan semakin meneguhkan kebathilan. Ketahuilah sahabat, Allah menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan untuk melayani manusia dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu hubungan manusia dengan alam semesta adalah hubungan keselarasan dan persahabatan. Kenyataan itu mengaruniai manusia kedamaian pikiran, kepuasan bathin dan kebahagiaan hidup. Orang yang selalu menyadari tentang hakikat kesementaraan hidup, hidupnya akan diilhami dengan cinta, harapan optimisme dan kepuasan. Cukuplah apa yang diberikan Allah kepadanya. Wahai Rabb yang membolak-balikan hati setiap hamba. Teguhkanlah pendirian kami pada agama-Mu. Tampak jelas Engkau memberikan hamparan karunia yang tak terbatas. Ajarilah kami ilmu-Mu yang maha luas,

Total Hits : 298


Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan);

“Kamu atelah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniamu (saja) dan kamu telah

bersenang-senang dengannya, maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan

karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak

dan karena kamu telah fasik” (Qs.al-Ahqaf [46]: 20)


Sahabat… siapapun pasti mengerti, bahwa didunia ini kita harus berusaha mencari kebahagiaan. Namun keberhasilan dalam memperolehnya tidak berarti kita harus mengorbankan kebenaran yang kita anut, bahkan menghalalkan segala cara. Dan manusia tidak boleh melanggar tapal batas moralitas dan taqwa demi meraih keuntungan material. Biasanya, kecenderungan material timbul dari keserakahan yang tak terkendali. Orang serakah memang tak pernah puas dengan harta dunia, persis seperti api membakar semua bahan bakar yang diberikan. Ketahuilah, bila keserakahan telah menguasai diri kita, ia akan mengubah kehidupan sosial kita menjadi medan pertengkaran dan perpecahan sebagai ganti dari keadilan, keamanan dan kedamaian. Secara alami dalam mesyarakat semacam itu keseluruhan moral dan ruhani tidak mendapat kesempatan.


Sebuah realitas yang memprihatinkan, kebanyakan kita telah menjadi hamba perut yang hidupnya seakan hanya untuk makan dan mencari kesenangan dengan mengabaikan tuntunan Ilahi. Ketahuilah, perut adalah sumber peyakit dan malapetaka, sumber keinginan dan syahwat yang kemudian diikuti oleh syahwat seksual. Syahwat perut dan kemaluan adalah penyebab timbulnya cinta akan kedudukan dan harta. Bahkan syahwat perut menjadi sebab dikeluarkannya Nabi Adam dan Hawa dari kampung yang kekal (surga) ke kampung yang fana (dunia). Orang yang cenderung menjadi hamba perutnya identik dengan kekikiran (bakhil). Hartanya tidak boleh susut sedikitpun, serba menghitung dan menjumlah miliknya. Setiap saat ia memeluk hartanya melebihi pelukannya terhadap istrinya. Kalau ia bepergian hartanya berada didalam kepalanya, kalau ia tidur hartanya ibarat bantal gulingnya. Apabila orang bertamu kerumahnya keningnya berkerut, khawatir kalai yang datang meminta sodaqoh kepadanya. Ia lebih suka berdiam diri dirumah dan jarang bergaul dengan masyarakatnya. Karena takut kebersamaannya akan mengeluarkan hartanya untuk macam-macam keperluan masyarakat. Ia suka kepada kemewahan dan suka juga pada kebakhilan. Itulah manusia yang menjadi hamba perutnya.


Itulah keserakahan yang tak pernah memberi kepuasan. Bermewah-mewah adalah sesuatu yang sangat disukai oleh hawa nafsu. Kemewahan, apabila telah melampaui batas akan menimbulkan pemborosan. Pemborosan adalah cikal bakal kemiskinan dan kemelaratan. Sedangkan kemelaratan adalah bibit kekufuran. Bahkan kemaksiatan dilahirkan dari induk yang bernama kemewahan. Orang dapat membeli apa saja dengan uang bahkan dapat membeli kemaksiatan dalam bentuk apapun. Sedikit sekali oang yang mau membeli kebaikan, kearifan dan keadilan melalui kemewahan. Islam menentang hidup yang berlebihan sampai melampaui batas. Sebab malapetaka yang timbul akibat keserakahan, keangkara murkaan dan rayuan harta yang melemahkan tidak saja menimpa dunia, tetapi diakhirat akan tetap mengancam. Bukalah lembaran al-Qur’an yang mulia, didalamnya ada sekelumit kisah tentang suatu ummat yang pernah tenggelam dalam keserakahan dan kesenangan dan kekafiran. Oleh Allah kaum yang seperti ini kemudian dihinakan dengan azab yang sangat pedih.


Kenapa banyak manusia serakah ?, keserakahan timbul akibat rasa takut kehilangan sesuatu yang di milikinya dan kecintaan terhadap dunia yang berlebihan. Imam Baqir pernah menasehati; “Perumpamaan orang serakah di dunia adalah ibarat ular sutra. Makin banyak sutra yang dijalinnya sekeliling dirinya, makin kecil kesempatannya untuk bertahan hidup hingga akhirnya ia lemas sendiri. Sahabat bermohonlah selalu kepada Allah, Dialah tempat kita berlindung dan memohon ampunan dari kejahatan diri dan buruknya perbuatan kita. Ketahuilah, bagi setiap orang yang berakal pasti memahami bahwa kehidupan yang meterialistis tidak pernah menghadirkan kecukupan dalam pencariannya tentang dunia. Sebab meneguk harta dunia ibarat meminim air asin, semakin banyak menelannya semakin haus kita dibuatnya.


Ya Allah, Rabb pemberi segala kemuliaan. Hadirkanlah dalam hati kami sifat menerima segala apapun yang Engkau berikan. Tetapkanlah jiwa kami untuk selalu bersyukur atas apa yang Engkau karuniakan. Janganlah Engkau biarkan hati kami selalu condong kepada keduniaan.


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhynya pada hari kiamat sajalah di sempurnakan pahalamu. Barang siapa di jauhkan dari neraka dan di masukan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (Qs. Ali-Imran [3] : 185)

Sahabat…menyelami kebenaran ayat Allah yang mulia ini, nampaknya sesuai benar dengan realitas saat ini. Kepalsuan dunia yang mempesona sering membuat kita tertipu oleh keindahan dan keelokannya. Tertipu (ghurur) oleh kepalsuan dunia telah menjadi penyakit yang mampu membutakan nurani. Kita sering tertipu oleh penglihatan lahir dan membiarkan diri dibohongi oleh kemauan hawa nafsu. Bertanyalah dalam hati. relakah kita menghancurkan diri hanya demi sebuah kebahagiaan yang sesaat. Padahal Allah menjanjikan tempat yang lebih indah darisegala keindahan, hidup yang lebih kekal dari segala kekekalan. Tidak sadarkah kita bahwa kehidupan pasca dunia teramat panjang dan tidak dapat diukur dengan hitungan waktu manusia. Astaghfirullah, rasanya berat nian pertanggung jawaban kita kelak dihadapan Allah.

Marilah , kita buka lembaran mulia firman Allah. Kita selami lautan ilmu yang tak terbatas. Kita akan menemukan tentang sebuah kebenaran yang hakiki, juga sebuah informasi yang pasti. Bahwa disekian banyak ayat, begitu jelas Allah berbicara tentang keberadaan dunia dan sifat-sifat yang terdapat didalamnya. Renungkanlah:

· Dunia adalah mata’ (kesenangan yang menipu). Ketertipuan kita terhadap dunia terjadi manakala kita beralih sikap dari menjadikan dunia sebagai sarana menjadi tujuan. Dari pelengkap menjadi utama dan dari beribadah menjadi demi benda-benda. Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah landang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)”. (Qs. Ali-Imran [3] :14.

· Dunia adalah la’ib (main-main) dan laghwu (senda ghurau). Dunia bagai panggung sandiwara dimana kita hanya memainkan peran yang ditugaskan sang sutradara. Sutradara kehidupan adalah Allah. Manusia menyusuri relung-relung ketentuan Allah dalam upaya-upaya yang dikerjakannya. Oleh karena itu tertipulah manusia yang menganggap upayanya di dunia sebagai satu-satunya faktor yang menentukan hari depannya. Allah berfirman ; "Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sunguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa". (Qs. Al-An’am [6] : 32).

· Dunia ini adalah Qalil (kecil). Allah menciptakan alam raya ini lengkap dengan atribut yang ada di dalamnya. Mulai dari gugusan bintang-bintang yang nampak begitu kecil sampai pada planet-planet yang ada di dalamnya. Dan dunia adalah salah satu dari planet yang Allah ciptakan. Bahkan dunia ini bagaikan debu kecil yang berterbangan di langit yang maha luas ini. Dan di tempat yang kecil inilah kita berada di dalamnya, hidup dan berkembang. Oleh karenanya betapa kerdilnya jika kita menganggap bahwa kenikmatan dunia ini besar, seakan tidak ada yang lain yang mampu memberikan kenikmatan itu. Allah berfirman ; "Katakanlah : "Kesenangan di dunia ini hanyalah kecil (sebentar) dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak dianiaya sedikitpun". (Qs. An-Nisa’ [4] : 77)

Benar, bahwa manusia memerlukan fasilitas dunia untuk mampu bertahan hidup. Bahkan Allah mengharuskan kita untuk mencari apa yang telah dianugerahkan-Nya agar kita mendapatkan kebahagiaan hidup. Tetapi harus di ingat bahwa proses pencarian kita tentang sarana kehidupan ini harus berorientasi pada kepentingan akhirat : “Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (untuk mencari kebahagiaan) akhirat dan janganlah melupakan bagianmu di dunia”. (Qs. Al-Qashas [28] : 77).

Allahumma, Ya Allah, adalah taufiq-Mu jua yang dapat menghantarkan kami menuju ampunan-Mu. Sinarilah langkah kami dengan kebenaran firman-Mu, teguhkan jiwa kami untuk selalu mentauladani sunnah Rasul-Mu. Jadikan dunia ini sebagai tempat segala kebaikan bukan tempat untuk menambah keburukan. Engkaulah maha pemberi ampunan.

Anda bisa menemukan inspirasi baru disini

Keindahan, kemewahan itu yang sering menggoda didalam kehidupan ini. satuhal yang penting untuk diketahui cita-cita adalah pilar penting untuk mencapai sesuatu yang berupa keindahan maupun kemewahan. Saat kita masih berwujud sperma sebuah cita-cita itu telah terlahir, tampa cita-cita untuk menang kita akan tersingkirkan dari ajang perebutan sebuah kursi kekaisaran/kerajaan rahim. mungkin ada yang belum paham maksudnya akan ku jelaskan saat kita berwujud sel sperma tidak lah dengan berdiam diri sel itu menjadi manusia. berjuta-juta sel seperma bersaing untuk menjadi mahluk bernama manusia, dengan mengerahkan berbagai kekuatan hingga ada salah satu sel seperma yang menjadi pemenang.tampa sebuah cita-cita untuk menang maka sang juara tidak akn hadir.

sekelumit pengkiasan diatas yang intinya adalah kita harus memiliki cita-cita dalam sbuah pejuangan, kiasan di atas dapat kiranya menjadi inspirator untuk menjadi blogger yang menghasilkan uang. Perlu ditanamkan cita-cita dibenak kita sebelum memulai membuat blog. Haruslah bertanya dalam diri apa yang sesungguhnya kita kita cita-citakan, apakah kita ngeblog sekedar mengisi waktu luang ? atau ada cita cita yang lebih tinggi. misalkan mengahiskan uang darinya. bila cita-cita yang kita pilih sudah ditetapkan kita akan lebih mudah merencanakan sebuah seterategi yang akan di gunakan untuk menggapai cita-cita. Sekarang pikirkan apa yang anda cita-citakan didalam aktivitas ngeblog. kalau belum ada jangan menulis di blog karena akan linglung tidak tau apa yang akan ditulis. kita sering menemukan orang yang telah memiliki blog akan tetapi kebingungan mecari tema yang akan ditulis, hal ini terjadi karena tidak adanya cita-cita yang tertanam di pikiran nya.
Tanamkanlah cita-citamu sedalam-dalamnya di benak mu maka jalan untk menggapainya akn semakinterbuka.